Kuliah Emka

Home » Pembelajaran » 9 MITOS eLEARNING DI SEKOLAH

9 MITOS eLEARNING DI SEKOLAH

Tidak sedikit sekolah yang ingin mengimplementasikan eLearning tetapi mundur kembali dikarenakan beredarnya anggapan atau mitos mengenai eLearning. Sebagian besar sekolah terlalu memfokuskan pada aspek teknologi dan bukan pada aspek pembelajaran. Padahal teknologi hanyalah alat untuk membantu proses pembelajaran.

Jika dianalogikan, teknologi adalah sebuah truk yang bertugas untuk mengantarkan barang berharga (pembelajaran) di dalamnya. Sama halnya dengan eLearning, teknologi hanya sebagai alat yang menyampaikan pembelajaran agar dapat dengan mudah dipahami oleh peserta didik. Sekali lagi yang paling penting adalah pembelajaran.

Saya rangkum di bawah ini beberapa mitos yang selama ini beredar mengenai eLearning di sekolah:

1. Biaya untuk mengimplementasikan eLearning mahal
Sekolah menganggap biaya eLearning mahal, padahal aplikasi yang diperlukan untuk mulai mengimplementasikan eLearning sangatlah murah, bahkan bisa dikatakan gratis. Aplikasi pengelolaan pembelajaran (Learning Management System) yang gratis banyak beredar dan banyak digunakan institusi maupun sekolah di seluruh dunia. Berikut ini beberapa aplikasi pengelolaan pembelajaran gratis:

• Moodle: Saat ini LMS yang dibuat oleh seorang pendidik di Australia, Mark Dougiamas dan dikembangkan oleh komunitas open source di seluruh dunia menjadi LMS yang paling banyak dipakai. Komunitasnya yang besar memudahkan sekolah untuk mencari jawaban apabila menemukan berbagai kesulitan dalam menggunakan LMS ini.
Anda dapat mendownload Moodle di alamat berikut: http://www.moodle.org
• LMS yang lain adalah ATutor (www.atutor.ca), Claroline (www.claroline.net), Dokeos (http://www.dokeos.com), eFront (www.efrontlearning.net) dan lainnya. Penjelasan untuk masing-masing LMS akan dibahas terpisah. Semua ini merupakan aplikasi gratis dan dapat didownload oleh siapapun. Beberapa diantaranya bahkan memiliki terjemahan untuk hampir semua bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

2. Membuat materi eLearning sulit dan membutuhkan waktu yang lama
Jika Anda dapat mengetik pada aplikasi pengolah kata (MS Word atau Open Office Writer), maka Anda dapat membuat materi eLearning. Penggunaan aplikasi untuk eLearning tidaklah sulit dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika Anda sudah memiliki materi dalam bentuk dokumen atau powerpoint, tidaklah membutuhkan tingkat kecakapan yang tinggi maupun waktu yang lama.

Dari sisi teknis tidaklah terlalu sulit dan tidak terlalu lama dalam pembuatannya. Yang perlu dibekali untuk pendidik adalah bagaimana dan kapan menggunakan eLearning. Bagaimana meramu pembelajaran eLearning agar dapat mudah dipahami peserta didik dan kapan waktu yang tepat untuk menggunakannya. Saya ulang kembali, yang paling penting, bukanlah teknologinya tetapi pembelajaran.

3. Spesifikasi teknologi yang diperlukan haruslah tinggi
Berlimpahnya aplikasi berbasis web memastikan bahwa aplikasi tersebut dapat dipakai untuk berbagai jenis sistem operasi dan berbagai jenis teknologi. Untuk membuka konten eLearning dapat diakses dari komputer manapun, tidak memerlukan komputer yang berteknologi tinggi dan terbaru.

Jika sekolah belum memiliki server atau komputer yang memiliki kecepatan cukup untuk mengatur lalu lintas data, dapat membeli domain dan hosting yang terhubung ke internet 24 jam hanya dengan beberapa beberapa ribu rupiah perbulan. Ruang hosting yang 1GB bahkan hanya beberapa puluh ribu rupiah. (Anda dapat membuka http://www.idwebhost.com, http://www.rumahweb.com, http://www.masterweb.net, dan lainnya).

4. Sekolah harus memiliki teknisi yang mumpuni dalam eLearning
Komunitas yang besar di internet serta milyaran konten pembelajaran tersedia secara gratis dapat diakses kapanpun dan di manapun. Termasuk pembelajaran mengenai eLearning, dari mulai instalasi aplikasi, pengisian konten, penilaian dan hal-hal lain mengenai pembelajaran sudah tersedia.

Sekolah tidak perlu menunggu datangnya seorang teknisi yang mumpuni. Sekolah dapat memanfaatkan guru TIK atau beberapa guru yang memiliki rasa haus akan pengetahuan yang tinggi untuk diberikan tanggung jawab sebagai tim yang mengelola eLearning sekolah. Perlu diingat, seorang teknisi hanya akan fokus kepada teknologi yang digunakan bukan pada aspek pedagogis.

5. Perlu akses internet yang cepat
Gunakan intrAnet apabila akses intErnet sekolah terasa lambat. Secara sederhana, Intranet adalah jaringan yang hanya menghubungkan satu komputer dengan komputer lainnya di dalam sebuah lingkungan, dalam hal ini lingkungan sekolah. Intranet berbeda dengan internet, internet cakupannya jauh lebih luas. Internet merupakan kumpulan jaringan yang terhubung antara satu sama lain dengan cakupan seluruh dunia.

Apabila sekolah menggunakan intranet, kecepatan yang diperoleh pun jauh lebih cepat dibandingkan melalui internet. Konten pembelajaran dapat disimpan dalam sebuah server yang dapat diakses oleh semua komputer yang terhubung pada jaringan tersebut.

Akses ke internet dapat dilakukan pada satu komputer, lalu tim eLearning sekolah lah yang menyimpan konten pembelajaran yang ada di internet ke dalam server sekolah agar dapat diakses oleh seluruh warga sekolah dengan cepat melalui intranet.

6. Pendidik terlalu disibukkan dengan kegiatan administratif yang menyita waktu
Mitos atau mungkin lebih tepat alasan ini paling sering saya jumpai pada saat pelatihan atau kunjungan ke sekolah. Pendidik mengemukakan bahwa mereka terlalu disibukkan dengan kegiatan administratif. Memang benar dengan perubahan kurikulum banyak sekali kegiatan administratif yang harus dilakukan, tetapi kegiatan administratif ini repetitif, yakni berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hanya membutuhkan sedikit penyesuaian dari tahun ke tahun.

Keperluan administratif dapat dikelola dalam sebuah server. Pengelolaan administratif ini sering disebut sebagai Sistem Informasi Manajemen (SIM) sekolah yang dapat memudahkan guru untuk menyelesaikan kegiatan administratif. Salah satu SIM sekolah yang tersedia secara gratis adalah PAS (Paket Aplikasi Sekolah) yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan SMA, dapat juga digunakan untuk SMP dan SD.

Dengan menggunakan eLearning, sebetulnya konten atau materi pembelajaran dapat satu kali dilakukan kemudian disimpan dan diupdate apabila diperlukan. Materi pembelajaran yang disampaikan dengan eLearning justru mempersingkat waktu pendidik untuk persiapan mengajar.

7. Peserta didik tidak memiliki akses terhadap komputer dan/atau internet
Berdasarkan data terakhir (3 Mei 2011) dari http://www.checkfacebook.com/, situs yang menyediakan informasi statistik mengenai pengguna facebook di seluruh dunia, Indonesia perlu berbangga hati (ataukah bersedih?) dengan menjadi negara pengguna facebook kedua terbesar setelah Amerika Serikat. Pengguna Facebook Indonesia mencapai 36.358.100 pengguna. Dari 36 juta pengguna ini, sekitar 70% berada pada usia belajar (Usia 18-24: 43,4%; usia 14-17: 24,6%; Usia <13: 1,8%). Total pelajar yang tercatat pada Data Pokok Pendidikan Kemendiknas, total pelajar di Indonesia sebanyak 41.191.778 sedangkan mahasiswa sebanyak 4.8 juta. Ini artinya lebih dari 50% pelajar Indonesia dapat mengakses Internet.

Meskipun data pengguna Facebook ini tidak dapat dijadikan patokan karena bisa jadi satu pelajar memiliki beberapa akun Facebook, tetapi dapat terlihat bahwa lebih dari setengah pelajar di Indonesia memiliki akses terhada komputer dan/atau internet. Jumlah ini dari tahun ke tahun meningkat dengan pesat. Jika pelajar dapat mengakses Facebook, maka mereka dapat pula mengakses konten eLearning.

Dari data tersebut timbul pertanyaan: Akankah mereka (peserta didik) mengakses konten eLearning yang dibuat sekolah sama seperti mereka mengakses Facebook?

8. Tidak ada interaksi antara pendidik dan peserta didik
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pembelajaran tradisional dengan pembelajaran menggunakan berbagai macam media di mana pendidik dan peserta didik tidak dalam satu tempat dan/atau waktu yang sama. (Schramm, 1977; Johnston, 1987; Russel, 1992; Schlosser dan Anderson, 1994).

Bahkan interaksi pendidik dengan peserta didik dapat lebih intensif dan personal baik itu interaksi secara synchronous, seperti chatting, maupun interaksi asynchronous berupa forum diskusi. Penelitian yang dilakukan oleh Lim dan Sudweeks (2008) bahwa peserta didik belajar melalui computer-mediated communication mempengaruhi persepsi dan meningkatkan partisipasi peserta didik dalam upaya memahami materi yang sedang dipelajari.

9. Pembelajaran dengan eLearning tidak dapat terawasi
Berbeda dengan pembelajaran di ruangan kelas yang dapat langsung dilihat oleh pendidik, pembelajaran melalui media eLearning peserta didik tidak dapat langsung dilihat. Hal ini membuat pendidik enggan untuk menggunakan eLearning dengan kekhawatiran bahwa peserta didik menjadi tidak terkontrol dalam pembelajaran mereka.

Aplikasi pengelolaan pembelajaran (LMS) seperti Moodle dan Dokeos serta LMS lainnya memiliki fitur untuk melakukan tracking dan progress bar. Pendidik dapat kapanpun melihat materi apa saja yang telah dibuka peserta didik, berapa lama mengaksesnya, apa yang dilakukannya, serta komentar atau pertanyaan apa yang mereka tanyakan dapat dilihat melalui fitur tracking. Sampai sejauh mana peserta didik belajar dari materi tersebut dapat dilihat melalui progress bar, dengan fitur ini peserta didik mengetahui sampai sejauh mana mereka telah belajar dan tinggal berapa jauh yang mereka harus pelajari.

Hampir semua mitos di atas memiliki kendala dari sisi teknis. Mitos-mitos ini sedikit sekali yang berhubungan dengan pembelajaran. Sudah saatnya sekolah dan pendidik melihat eLearning bukan dari teknologi yang digunakan tetapi bagaimana dan kapan menggunakannya.

Referensi:
Schramm, W. (1977). Big media, little media, tools and technologies for instruction. Beverly Hills, CA: Sage Publications
Johnston, J. (1987). Electronic learning: From audiotape to videodisk. Englewood Cliffs, NJ, Lawrence Erlbaum Associates.
Russel, T. L. (1992). Television’s indelible impact on distance education: what we should have learned from comparative research. Research in Distance Education, 4 (4), 2-4.
Schlosser, C. dan Anderson, M. (1994). Distance Education: Review of the literature. Washington, DC: AECT Publications.
Lim, L.H. and Sudweeks, F. (2008). Chatting to learn: a case study on student experiences of online moderated synchronous discussions in virtual tutorials. Di dalam: Nagash, S. and Whitman, M.E., (eds.) Handbook of Distance Learning for Real-Time and Asynchronous Information. Idea Group, Hershey, PA, hal. 170-191.

http://www.dbe3elearning.net (Berisi artikel-artikel mengenai eLearning)

disadur dari http://psb-psma.org/content/blog/3676-9-mitos-elearning-di-sekolah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: