Kuliah Emka

Home » Penelitian » Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan Pengembangan

Ada banyak jenis penelitian yang dilakukan, baik oleh akademisi maupun oleh peneliti. Penelitian dan pengembangan merupakan penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2009: 407). Jenis penelitian ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah produk. Produk yang dihasilkan dapat berupa produk yang betul-betul atau produk hasil pengembangan dari produk yang sudah ada. Menurut Borg and Gall (1979: 624), educational research and development is a process used to develop and validate educational product. Penelitian pengembangan pendidikan adalah sebuah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Hasil dari penelitian  pengembangan tidak hanya pengembangan sebuah produk yang sudah ada melainkan juga untuk menemukan pengetahuan atau jawaban atas permasalahan praktis.

Dan menurut (Richey and Klein, 2007: 1), pengembangan adalah proses penterjemahaan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik yang berkaitan dengan desain belajar sistematik, pengembangan dan evaluasi memproses dengan maksud menetapkan dasar empiris untuk mengkreasikan produk pembelajaran dan non-pembelajaran yang baru atau model peningkatan pengembangan yang sudah ada.

Ada beberapa model penelitian pengembangan dalam bidang pendidikan, antara lain model Borg and Gall dan model Sugiyono.

Menurut Borg and Gall (1979: 626), langkah-langkah penelitian pengembangan ada 10, yaitu :

  1. Research and information collecting – Melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan data awal untuk kaji pustaka, pengamatan kelas, identifikasi permasalahan dan merangkum permasalahan.
  2. Planning – Melakukan perencanaan yaitu identifikasi dan definisi keterampilan, perumusan tujuan, dan uji ahli atau ujicoba pada skala kecil, atau expert judgement.
  3. Develop preliminary form of product – Mengembangkan jenis/bentuk produk awal meliputi: penyiapan materi pembelajaran, penyusunan buku petunjuk, dan perangkat evaluasi
  4. Preliminary field testing – Melakukan uji coba lapangan tahap awal, dilakukan terhadap 1-3 sekolah menggunakan 6-12 subjek. Pengumpulan informasi/data dengan menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner, dan dilanjutkan analisis data
  5. Main product revision – Melakukan revisi terhadap produk utama, berdasarkan masukan dan saran-saran dari hasil uji lapangan awal
  6. Main field testing – Melakukan uji coba lapangan utama, dilakukan terhadap 5-15 sekolah, dengan 30-100 subjek
  7. Operational product revision – Melakukan revisi terhadap produk operasional, berdasarkan masukan dan saran-saran hasil uji lapangan utama
  8. Operational field testing – Melakukan uji lapangan operasional (dilakukan terhadap 10-30 sekolah, melibatkan 40-200 subjek), data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner
  9. Final produk]ct revision – Melakukan perbaikan terhadap produk akhir, berdasarkan saran dalam uji coba lapangan
  10. Dissemination dan distribution – Mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk, melaporkan dan menyebarluaskan produk melalui pertemuan dan jurnal ilmiah, bekerjasama dengan penerbit untuk sosialisasi produk untuk komersial, dan memantau distribusi dan kontrol kualitas

Dan menurut Sugiyono (2009: 409) penelitian dan pengembangan terdiri dari 10 langkah, yaitu :

  1. Potensi dan masalah – penelitian harus berangkat dari potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang memiliki nilai tambah sedangkan masalah perbedaan antara harapan dan kenyataan.
  2. Pengumpulan data – pengumpulan berbagai data yang diperlukan dalam perancangan produk
  3. Desain produk – pembuatan rancangan produk awal yang akan dibuat lengkap dengan spesifikasinya.
  4. Validasi desain – proses penilaian terhadap rancangan berdasarkan pemikiran rasional bukan fakta dilapangan, dengan cara menghadirkan tenaga ahli yang sesuai.
  5. Revisi desain – koreksi dari ahli dijadikan untuk bahan perbaikan produk.
  6. Ujicoba produk – hasil dari dari perbaikan dibuat prototipe jadi, kemudian diujicobakan penggunaannya pada kelompok terbatas. Desain ujicoba produk menggunakan desain eksperimen dengan cara membandingkan keadaan sebelum dan sesudah menggunakan produk (before-after) atau menggunakan kelompok kontrol (prestest-postest group desain). Kemudian dilakukan uji efektifitas dengan menggunakan uji-t.
  7. Revisi produk – proses perbaikan produk berdasarkan saran da hasil uji efektivitas pada uji coba produk.
  8. Ujicoba pemakaian – ujicoba produk pada kelompok yang lebih luas dan tetap dinilai kekurangan dan hambatan yang muncul untuk perbaikan lebih lanjut.
  9. Revisi produk – Perbaikan dilakukan apabila ada saran perbaikan dan usulan pada ujicoba pada kelompok luas.
  10. Produksi massal – Setelah beberapa kali pengujian dan dinilai effektif maka dapat dilakukan produksi secara massal.

Perancangan Produk

Pada proses perancangan produk, maka peneliti harus menggunakan sebuah model perancangan untuk membuat rancangan produk awal tersebut. Ibaratnya jika kita mengembangkan sebuah model baju, maka akan menggunakan rancangan apa, misalnya rancangan baju batik solo, baju batik yogyakarta dll.

Menurut Gustafson (2002: 18), ada beberapa model pengembangan pembelajaran yang dapat digunakan dalam merancang sebuah produk pendidikan. Model rancangan harus disesuaikan dengan model produk yang akan dibuat.

1.     Classroom-Oriented Models

Classroom-Oriented Models adalah model yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas baik pendidik maupun peserta didik. Hal ini berkaitan erat dengan bahan ajar, perencanaan strategi pembelajaran, pemilihan media pembelajaran, sistem penyampaian dan evaluasi. Beberapa model yang bisa digunakan dalam perancangan model yang berorientasi kelas adalah :

  • Model Gerlach dan Ely
  • Model Heinich, Molenda, Russel dan Smaldino
  • Model Newby, Stepich, Lehman dan Russel
  • Model Morrison, Ross dan Kemp

2.    Product-Oriented Models

Karakteristik model pengembangan produk mempunyai empat asumsi, yaitu : (1) Produk pembelajaran yang diperlukan (2) Pengembangan yang perlu dan penting pada produk yang sudah ada (3) penekanan pada uji coba dan revisi (4) produk harus dapat digunakan. Ada beberapa model yang dapat digunakan untuk proses perancangan model yang berorientasi produk, yaitu :

  • Model Bergman and More
  • Model de Hoog, de Jong dan de Vries
  • Model Nieveen
  • Model Seels and Glasgow

3.   System-Oriented Models

Model perancangan yang berorientasi sistema diantaranya :

  • The Interservice Procedures for Instructional Systems Development (IPISD) Models
  • The Gentry Models
  • The Dorsey, Goodrum dan Schwen Model
  • The Diamond Model
  • The Smith and Ragan Model
  • The Dick, Carey dan Carey Model

Daftar Bacaan :

  • Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, pendekatan kuantitaif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
  • Borg & Gall, 1979. Educational Research: an introduction. New York: Longman, Inc
  • Richey, Rita C. Klein. 2007. Design and Development Research. London: Lawrence Erlbaum Associates. Inc,
  • Gustafson, Branch. 2002. Survey of Instructional Devvelopment Models. New York: Eric Clearinghouse on Informations & Tecknology.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: