Kuliah Emka

Home » Model Dick Carey » Langkah Ketiga Dick Carey

Langkah Ketiga Dick Carey

Langkah ke – 3

MENGANALISIS PEMBELAJAR DAN LINGKUNGAN

(Analyze Learner and Context)

disusun oleh : muhamad khotib, triwahyu handoyo, suyono
wahyuni satiawati, rita ambarwati
(Mahasiswa Pasca TP Unila 2009)

A.  Latar Belakang

Kenyataan di lapangan banyak ditemui adanya ketidakcocokan antara Instruksional dengan kemampuan pebelajar, dengan lingkungan tempat belajar dan dengan lingkungan setelah pembelajar menggunakan keterampilan. Oleh karena itu perancang tidak hanya menganalisis dan menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga menganalisis karakteristik dari peserta didik, konteks di mana belajar akan dilakukan, dan konteks di mana keterampilan pada akhirnya akan digunakan. Untuk keperluan ini kita melakukan analisis pembelajar dan analisis konteks.

Alasan lain bagi perancang untuk menganalisis pembelajar dan konteks adalah bahwa analisis ini tidak dapat dilakukan dalam satu kantor. Desainer harus berbicara dengan pembelajar, instruktur, dan manajer; mereka harus mengunjungi ruang kelas, fasilitas pelatihan, dan peserta didik tempat kerja untuk menentukan keadaan di mana peserta didik akan mendapatkan dan menggunakan keterampilan baru mereka. Seperti pada langkah 2 analisa Instruksional dan analisa pebelajar dan konteks sering digunakan secara simultan sebagai satu kesatuan, sehingga informasi dikumpulkan dari setiap komponen

B. Konsep Pengembangan

Untuk melakukan analisis pembelajar dan konteks ada tiga analisis yang dilakukan, yaitu analisis pembelajar, analisis konteks performansi dan analisis konteks learning.

1. Menganalisis Pembelajar (Analyze Learner)

Sebelum kita membahas analisis pembelajar, baik kita tahu dulu siapa pembelajar dalam desain yang akan dibuat. Pembelajar disini kadang disebut sebagai populasi target atau kelompok sasaran. Mari kita mulai dengan mempertimbangkan bahwa pebelajar mendapatkan seperangkat Instruksional. Kita akan mengacu pada pebelajar ini sebagai target population yaitu mereka adalah orang-orang yang akan dikenai Instruksional secara tepat.

Informasi yang berguna yang akan didapat meliputi (1). Entry behaviour (Perilaku awal), (2). Pengetahuan awal tentang topik tertentu, (3). Sikap terhadap isi dan sistem penyampaian, (4). Motivasi belajar, (5). Tingkat pendidikan dan kemampuan, (6). Pembelajaran yang disukai, (7). Sikap terhadap pengelolana pemberian Instruksional, dan (8). Karakteristik kelompok. Paragraf berikut akan membahas secara lengkap informasi tersebut.

1) Perilaku Masukan.

Perilaku masukan maksudnya anggota populasi sasaran harus telah menguasai keterampilan tertentu sebelum proses Instruksional dimulai. Pada peta konsep perilaku masukan berada di bawah garis entry behaviors.

2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Topik.

Menekankan pentingnya menentukan apa yang peserta didik sudah tahu tentang topik yang akan diajarkan secara parsial. Mereka membangun pengetahuan baru dengan membangun pemahaman mereka sebelumnya, sehingga hal ini sangat penting bagi desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat pengetahuan sebelumnya.

3) Sikap Terhadap Isi dan Sistem Penyampaian.

Sikap atau kesan pebelajar terhadap isi materi dan bagaimana akan disajikan akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Harapan populasi tentang cara penyampaian materi akan menimbulkan motivasi.

4) Motivasi Akademik.

Tingkat motivasi pebelajar merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai pembelajaran yang sukses.  Ketika pebelajar mempunyai tingkat motivasi atau interest yang rendah terhadap topik tertentu, pembelajaran hampir tidak terjadi. Keller (1987) mengembangkan sebuah model motivasi ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan dan kepuasan) yang diperlukan dalam kesuksesan belajar tersebut.

5) Pendidikan Dan Tingkat Kemampuan.

Menentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum pebelajar. Informasi ini akan membantu mendapatkan gambaran jenis pengalaman pembelajaran yang mereka alami dan mungkin kemampuan mereka dalam mengatasi masalah terhadap pendekatan baru dan berbeda dalam pembelajaran.

6) Pembelajaran yang disukai.

Temukan keterampilan belajar dan kesukaan serta minat pebelajar untuk mendapatkan model pembelajaran yang sesuai. Dengan kata lain, apakah pebelajar menyukai pendekatan ceramah atau diskusi dalam belajar atau apakah mereka mengalami pendekatan belajar yang lain seperti studi kasus, pembelajaran berbasis masalah, kelas seminar atau pembelajaran mandiri melalui web site.

7) Sikap Terhadap Organisasi Pelatihan / Pendidikan

Populasi sasaran yang mempunyai sikap positif dan konstruktif terhadap organisasi yang menyediakan belajar. Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa sikap-sikap yang menunjang terhadap kesuksesan pembelajaran adalah berkaitan dengan keterampilan baru yang dapat diterapkan di tempat kerja.

8) Karakteristik Kelompok.

Analisa pebelajar secara benar akan menghasilkan dua jenis informasi tambahan yang dapat mempengaruhi dalam merancang pembelajaran. Pertama, tingkat keragaman populasi pebelajar. Kedua, interaksi langsung yang terjadi pada populasi pebelajar. Hal ini untuk mendapatkan dan mengembangkan kesan terhadap apa yang mereka ketahui dan bagaimana perasaan mereka.

Semua Variabel pembelajar ini akan digunakan untuk memilih dan mengembangkan tujuan Instruksional, dan mereka akan sangat mempengaruhi berbagai komponen dari siasat Instruksional. Mereka akan membantu para desainer mengembangkan strategi motivasi untuk Instruksional dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin, cara-cara di mana belajar dapat (atau tidak) akan disajikan, dan cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi pembelajar.

Mengumpulkan Data untuk Analisis Learner

Pengumpulan data tentang pembelajar dilakukan dengan melakukan wawancara terstruktur dengan manajer, instruktur, dan peserta didik dengan pola survei dan kuesioner.  Bisa juga dengan mengelola pretest untuk mengetahun perilaku masukan pembelajar.

Keluaran Hasil dari analisis pebelajar termasuk deskripsi tentang peserta didik (1) entry sebelumnya perilaku dan pengetahuan tentang topik, (2) sikap terhadap konten dan potensi sistem pengiriman, (3) motivasi akademik, (4) sebelum pencapaian dan tingkat kemampuan, (5) belajar preferensi, (6) umum sikap terhadap organisasi memberikan pelatihan, dan (7) karakteristik kelompok.

  1. 2. Analisis Konteks Performansi (Analysis of Performance Context)

Analisis Kontek Performasi adalah analisa untuk mengetahui lingkungan pebelajar dimana  akan menerapkan keterampilan tersebut. Berdasarkan perspektif konstruktif, analisa konteks yang dilakukan secara benar dapat membantu para perancang dalam menciptakan elemen-elemen yang tepat dalam lingkungan belajar dan membantu pebelajar dalam mengembangkan konsep yang optimal untuk belajar dan mengingat.

1). Pengelolaan atau Dukungan Supervisor

Kita harus belajar tentang pengorganisasian yang mendukung terhadap pengharapan pebelajar untuk menerima keterampilan-ketrampilan tersebut. Penelitian menegaskan bahwa satu indikator kuat dalam penggunaan keterampilan baru tersebut adalah pengaturan (disebut Transfer of training) yang harus diterima oleh pebelajar.

2). Aspek Fisik

Aspek fisik dimana keterampilan tersebut akan diterapkan adalah apakah mereka menggunakannya berdasarkan perlengkapan, fasilitas, peralatan, waktu, atau sumber-sumber yang lain ? Data-data ini dapat digunakan untuk merancang sebuah pembelajaran sehingga keterampilan tersebut dapat diterapkan pada lingkungan atau situasi yang mirip dengan tempat kerja.

3). Aspek Sosial

Pemahaman terhadap konteks sosial seperti bekerja sendiri atau merupakan anggota tim? Apakah pebelajar bekerja secara mandiri atau apakah mereka bekerja mempresentasikan konsep atau idenya dalam pertemuan staf atau supervisor ?

4). Keterampilan Yang Relevan Dengan Tempat Kerja.

Untuk memastikan bahwa keterampilan baru yang akan diterima oleh pebelajar sesuai dengan kebutuhan yang sudah diidentifikasi, kita seharusnya memprediksikan keterampilan-ketrampilan yang relevan yang akan dipelajari oleh pebelajar tersebut dengan situasi tempat mereka bekerja.

Pengumpulan Data untuk Pelaksanaan Analisis Konteks

Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan langsung ke lokasi yang tujuannya mengumpulkan data dari para pebelajar dan pengelola yang potensial dan mengamati lingkungan kerja, dimana keahlian-keahlian baru akan digunakan. Rangkaian prosedur pengumpulan data dasar ini mencakup wawancara dan observasi.

Hasil utama penelitian pada tahap ini adalah (1) suatu deskripsi lingkungan fisik dan organisasi, dimana keahlian tersebut digunakan, dan (2) rangkaian faktor khusus yang memudahkan atau bercampur dengan pemanfaatan keahlian baru oleh para pebelajar..

  1. 3. Analisis Konteks Pembelajaran (Analysis of Learning Environment)

Terdapat dua aspek untuk analisis konteks pembelajaran, yaitu menentukan apa dan bagaimana seharusnya. Apa di sini adalah suatu tinjauan kondisi yang mana instruksi tersebut terjadi. Hal ini mungkin hanya terjadi di satu lokasi, seperti suatu pusat pelatihan bersama, atau salah satu dari banyaknya lokasi yang dihadiri oleh seorang klien. Bagaimana seharusnya di sini dapat berupa fasilitas, perlengkapan, dan sumber yang cukup mendukung instruksi yang diinginkan.

Dalam analisis konteks pembelajaran, fokusnya meliputi unsur-unsur berikut ini:

1). Penyesuaian lokasi dengan Kebutuhan Instruksional

Dalam pernyataan sasaran instruksional yang dirancang pada tahap awal model ini, peralatan dan item pendukung lainnya juga diperlukan untuk menunjukkan sasaran yang disusun. Apakah lingkungan pembelajaran yang Anda kunjungi mencakup sasaran-sasaran ini? Dapatkah lingkungan tersebut sesuai dengan sasaran yang ada?

2.   Penyesuaian Lokasi untuk Mendorong Lokasi Kerja.

Persoalan lain adalah penyesuaian lingkungan pelatihan dengan lingkungan kerja. Dalam lingkungan pelatihan, suatu upaya yang harus dilakukan untuk mendorong faktor-faktor dari lingkungan kerja yang secara kritis memang untuk ditampilkan. Apakah hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan dalam konteks pelatihan yang telah dirancang? Apakah yang harus diubah atau ditambahkan?

3). Penyesuaian untuk Pendekatan Penyampaian

Susunan kebutuhan peralatan dari pernyataan sasaran menunjukkan bagaimana seharusnya berkaitan dengan konteks pembelajaran, dan juga, konteks pelaksanaan.

4). Batasan-batasan Lokasi Pembelajaran yang Mempengaruhi Rancangan dan Penyampaian.

Seorang instruktur mengajar dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar dalam suatu ruang kelas yang masih menggunakan metode pelatihan bersama. Pendidikan umum sendiri dipimpin oleh guru dengan dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar.

Meskipun demikian, sejumlah pendekatan instruksional-mandiri dan fasilitas telah tersedia, dan lebih banyak instruksi akan disampaikan pada suatu komputer kerja yang mencakup sistem pendukung pelaksanaan elektronik. Ketika sistem-sistem ini menjadi lebih mampu dan tersedia untuk penggunaan pelatihan, maka prinsip-prinsip rancangan sistematis akan menjadi lebih diterapkan, bahkan untuk pengembangan instruksi yang efisien dan efektif.

Pengumpulan Data untuk Analisis Konteks Pembelajaran

Dalam banyak cara, analisis konteks pembelajaran bersifat sama terhadap lokasi kerja. Tujuan utama analisis ini adalah untuk mengenali fasilitas dan batasan yang ada dari lokasi tersebut.

Prosedur yang diikuti dalam menganalisa konteks pembelajaran adalah untuk merencanakan wawancara dengan instruktur, pengelola lokasi, dan pebelajar, jika memungkinkan. Begitu juga dengan analisis konteks pelaksanaan, maka rangkaian pertanyaan wawancara juga harus disiapkan.

Hasil-hasil pokok dari analisis konteks pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) sebuah deskripsi tentang sejauh mana tingkat lokasi yang digunakan untuk menyampaikan pelatihan dengan keahlian yang diperlukan untuk beralih ke lokasi kerja, dan (2) sebuah susunan batasan yang akan menjadi implikasi-implikasi penting untuk proyek.


  1. C. Hasil Pengembangan

1.    Analisis Pebelajar

No Kategori informasi Sumber Data Diskripsi Karakteristik Pebelajar
1 Entry Behavior Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Pebelajar  sudah mampu menggunakan gunting , menggunakan pisau potong , memotong kertas, mengelem, mencari bahan dari barang bekas.
2 Sikap terhadap Materi dan sistem penyajian Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Pebelajar sudah mengetahui dan menyukai  pembuatan kartu ucapan dan praktik membuatnya.
3 Motivasi Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Pebelajar memiliki motivasi  yang tinggi terhadap materi pembuatan kartu ucapan.
4 Pendidikan  dan Tingkat Kemampuan Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Interview

Pembelajarnya adalah murid yang  sudah duduk di kelas VII SMP Negeri 13 Bandarlampung.

Kemampuan pebelajar agak beragam mengenai materi pembuatan kartu ucapan.

5 Gaya Belajar Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Pebelajar  lebih suka  diberikan demonstrasi pembuatan kartu ucapan
6 Sikap terhadap Lembaga Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Pebelajar  pada umumnya bersikap potif terhadap lembaga.
7 Karakteristik Kelompok Umum Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian

Pengalaman sendiri

Heterogernitas: Pebelajar  memiliki latar belakang yang berbeda. Rata-rata usia peserta didik  11 tahun – 13 tahun.

Ukuran  : Jumlah pebelajar  kelas VII  berjumlah 32 orang.

Kesan Menyeluruh: Pebelajar  memiliki kesan yang baik untuk menyelesaikan tugas dan penilaian.

2.    Analisis Konteks Performansi

No Kategori informasi Sumber Data Karakteristik Pebelajar
1 Dukungan Kepala Sekolah Pembelajaran langsung Penghargaan: Kepala sekolah memberikan reward pada pebelajar. Bentuknya berupa reinforcement, set ifikat atau piagam.
2 Aspek fisik dari  performansi tempat Pengalaman pribadi pebelajar Sekolah menyiapkan fasilitas, sarana prasarana, waktu  untuk pebelajar. Pebelajar bertanggungjawab untuk menyiapkan seluruhnya.
3 Aspek sosial Pengalaman pribadi pebelajar Interaksi: Pebelajar langsung belajar dilokasi yang berbeda dan didukung oleh kelompok kerja  atau keluarga atau kawannya yang tahu materi pembuatan kartu ucapan.
4 Aspek relevansi skills to workplace. (.5) Pengalaman pribadi pebelajar Identifikasi Kebutuhan: Pebelajar membutuhkan Identifikasi kebutuhan yang diperlukan untuk pembuatan kartu ucapan.

Aplikasi: Pebelajar mengidentifikasi  bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat kartu ucapan.

Aplikasi yang akan datang: Pebelajar  dapat membuat dan memprodusikan kartu ucapan untuk  mengembangkan kreatifitas, produktofitas, dan aspek ekonomis.

3.    Analisis Konteks Pembelajaran

  1. No Kategori informasi Sumber Data Karakteristik Pebelajar
    1 Lokasi/ tempat Belajar Pengalaman pribadi pebelajar Pebelajar  melengkapi tugas belajar dari rumah . Pebelajar mengerjakan  tugasnya dari pengalaman  yang berbeda dalam pembuatan kartu ucapan.
    2 Kesesuaian kebutuhan pembelajaran Pengalaman pribadi pebelajar Strategi pembelajaran: Pebelajar  melengkapi tugas belajar dari rumah . Pebelajar mengerjakan  tugasnya dari pengalaman  yang berbeda dalam pembuatan kartu ucapan

    Waktu:  Pertemuan 3 kali X 40 menit.

    Peserta :  32 orang

    Lokasi   : SMP negeri 13 Bandarlampung

    3 Kesesuaian kebutuhan pebelajar Pengalaman pribadi pebelajar Lokasi: SMP negeri 13 Bandarlampung

    Kenyamanan: Pebelajar  merasa nyaman/ senang  belajar di sekolah

    Ruang:  Kelas VII

    Pelengkapan: Gunting, pisau kater, kertas, lem, bakan bekas lainnya.

    4 Kelayakan  tempat belajar Pengalaman pribadi pebelajar Karakteristik Pengawas : Pebelajar  mengatur dirnya sendiri dalam proses belajar .

    Karakteristik Fisik:  Tempat belajarnya baik.

    Karakteristik sosial: Hubungan / komunikasi antar siswa  dan guru baik

Muhamad Khotib, guru SMA Muhammadiyah 1 Sekampung Udik Lampung Timur
Tri Wahyu Handoyo, Guru SMAN 1 Gunung Pelindung Lampung Timur
Suyono, Guru SMAN 2 Way Tenong Lampung Barat
Wahyuni Satiawati, Guru SMPN 13 Bandar Lampung
Rita Ambarwati, Guru SMA Teladan Bandar Lampung

Pasca Teknologi Unila 2009.

%d bloggers like this: