Kuliah Emka

Home » Model Dick Carey » Langkah Keempat Dick Carey

Langkah Keempat Dick Carey

Langkah ke-4

MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

( Write Instructional Goal )

disusun oleh : muhamad khotib, triwahyu handoyo, suyono

wahyuni satiawati, rita ambarwati

(Mahasiswa Pasca TP Unila 2009)

A. Latar Belakang

Komponen yang paling terkenal dalam model desain pembelajaran adalah menulis tujuan performansi, atau sering disebut dengan behavioral objectives (tujuan perilaku). Robert Mager (1962). Tujuan penulisan tujuan performansi adalah untuk  menjawab pernyataan  tentang kemampuan apa yang  akan dilakukan  pebelajar ketika mengikuti dan  menyelesaikan  proses pembelajaran.

Ketika guru dilatih untuk merumuskan tujuan intruksional khusus, terhadap dua kesulitan utama yang dihadapi ketika proses mendefinisikan tujuan tidak termasuk dalam komponen yang integral pada model desain pembelajaran. Pertama, tanpa sebuah model yang jelas para guru menemui kesulitan untuk menentukan bagaimana memperoleh tujuan pembelajaran. Meskipun para pengajar dapat menguasai mekanisme penulisan tujuan, tidak ada konsep dasar yang dapat mengarahkan dalam mendapatkan tujuan. Sebagai hasilnya beberapa guru kembali kepada isi yang terdapat dalam teks books untuk mengidentifikasi topik-topik yang akan mereka tulis sebagai behavioral objectives. Kedua, mungkin lebih sebagai kritikan adalah apa yang dilakukan dengan tujuan tersebut setelah ditulis oleh para guru. Tujuan ini hanya sebatas tulisan yang hanya berfungsi sebagai dokumen administrasi bagi seorang guru.

B. Konsep Pengembangan

1. Tujuan Performansi (Performance Objective)

Tujuan Performansi adalah sebuah gambaran detail tentang apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar setelah menyelesaikan pembelajaran. Titik pertama mengacu pada 3 istilah yang sering digunakan ketika mendeskripsikan performance pebelajar. Robert Mager 1975 pertama kali mengunakan istilah behavioral objectives , performance objectives dan instructional objectives.  Anda seharusnya tidak memiliki pengertian yang keliru mengenai instructional objectives. Instructional objectives menggambarkan jenis pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan dipelajari oleh pebelajar.

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya tujuan instruksional mendeskripsikan mengenai apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar ketika mereka menyelesaikan materi pembelajaran. Hal ini mendeskrpsikan situasi nyata, situasi belajar diluar, dimana pebelajar akan menggunakan keterampilan dan pengetahuan tersebut. Ketika tujuan intruksional umum di ubah dalam Tujuan Kinerja disebut sebagai terminal objektif. Terminal objektif mendeskripsikan secara jelas apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar ketika pebelajar menyelesaikan satu unit pembelajaran.

Performance objective diperoleh dari keterampilan dalam analisis intruksional. Satu atau lebih objective seharusnya ditulis dalam setiap skill yang di identifikasi dalam analisis instruksional. Kadang-kadang penulisan objektif tersebut di indetifikasikan sebagai entry behavior (sikap awal) karena objektif merupakan dasar pengembangan tes item untuk menentukan apakah pelajar memilki entry behavior seperti yang telah kita asumsikan.

2. Komponen Tujuan.

Bagaimana objektif ditulis sebagai goal statement, langkah-langkah dalam tujuan, subordinat skill dan entry behavior ? karya Robert Mager selanjutnya dijadikan sebagai standar dalam pengembangan objektif, model tersebut merupakan pernyataan yang meliputi tiga komponen utama, yaitu : kemampuan yang diukur, kondisi yang menjadi syarat, dan kriteria penilaian.

1).     Derivations of Behaviors (Prilaku)

Dalam penyusunan tujuan  diperlukan  kata kerja operasional yang terukur  dari masing masing ranah ( Kognitif, psikomotor, dan afektif). Penulisan tujuan ini harus  mampu mengungkapkan  jenis perilaku  yang dirumuskan melalui proses identifikasi dalam analisis  instruksional.

Keterampilan  intelektual dapat dijelaskan dengan kata kerja operasional  seperti mengidentifikasi, mengklasifikasi, menunjukkan, atau menghasilkan. Kata kerja ini mengacu pada kegiatan khusus seperti sebagai pengelompokan objek serupa, membedakan satu hal dari yang lain, atau memecahkan masalah. ( Golas, dan Keller , 2004) Gagne tidak menggunakan kata kerja seperti  tahu, mengerti, atau menghargai karena kata kerja itu  sulit untuk diukur.

Tujuan performansi yang berhubungan dengan keterampilan psikomotorik dapat dilakukan  dengan memilih kata kerja yang  dinyatakan dalam  bentuk perilaku (misalnya, berlari, melompat,  menari , atau mengemudi).

Ketika tujuan melibatkan aspek sikap, pelajar biasanya diharapkan untuk memilih alternatif tertentu. Di sisi lain, hal itu mungkin melibatkan pelajar membuat pilihan dari di antara berbagai kegiatan.

2).     Derivations of Conditions (Kondisi)

Komponen kedua dari tujuan menetapkan kondisi-kondisi tertentu yang menjadi bagian dari tujuan tersebut. Kondisi mengacu pada lingkungan dan sumber-sumber yang tersedia pada saat tujuan ditetapkan. Dalam pemilihan kondisi yang tepat mempertimbangkan baik perilaku yang di capai maupun karakteristik populasi target anda juga membedakan fungsi-fungsi dari kondisi tersebut, fungsi tersebut meliputi :

a.    Syarat-syarat yang disediakan dimana siswa akan mengunakannya dalam mendapatkan informasi (stimulus).

b.    Karakteristik dari sumber-sumber materi yang di perlukan untuk mengerjakan tugas. Beberapa sumber materi sebagai berikut;

• Ilustrasi seperti table, grafik,

• Materi tertulis seperti; artikel surat kabar, story,

• Objek secara fisik seperti batu, daun, mesin atau alat

• Materi referensi, kamus, teks book, data base, web

c.    Cakupan dan kompleksitas tugas, menyesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman siswa.

d.    Konteks yang relevan dengan dunia nyata adalah untuk membantu transfer pengetahuan dan penampilan dari pengajaran kedalam kinerja.

3).     Derivations of Criteria

Bagian akhir dari objektif adalah kriteria dalam memutuskan keterampilan performance yang dapat diterima. dalam menetapkan kriteria yang logis, anda harus mempertimbangkan tugas yang dilaksanakan. Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information hanya mempunyai satu respon yang dianggap benar. Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information tidak menghasilkan jawaban tunggal dan respon siswa yang bervariasi.

3. Langkah Penulisan Tujuan.

Disamping menentukan tujuan dan seperangkat instruksional yang sesuai dengan analisis konteks, para desainer seharusnya mereview pernyataan tujuan sebelum menetapkan tujuan. Langkah-langkah dalam menulis tujuan adalah sebagai berikut :

1.   Edit tujuan untuk merefleksikan performance konteks.

2.   Tulis terminal objective yang mencerminkan konteks learning environment.

3.   Tulis tujuan untuk setiap langkah dalam analisis tujuan jika tidak terdapat substep.

4.   Tulis tujuan untuk setiap substep.

5.   Tulis tujuan untuk seluruh subordinate skill.

6.   Tulis tujuan untuk entry behaviour jika terdapat siswa yang tidak memiliki kompetensi yang tercakup dalam entry behavior.

4. Evaluasi Tujuan.

Cara yang baik untuk mengevaluasi kelayakan kejelasan dan tujuan yang telah ditulis adalah untuk membangun sebuah item tes yang akan digunakan untuk mengukur peserta didik  dalam pencapaian tugas. Jika tidak dapat menghasilkan barang logis sendiri, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali.

Cara lain untuk mengevaluasi kejelasan tujuan adalah dengan meminta seorang rekan untuk membangun tes item yang sama dan sebangun dengan perilaku dan kondisi yang ditentukan. Jika item tidak diproduksi sangat mirip dengan salah satu yang ada dalam pikiran, maka tujuan tidak cukup jelas untuk berkomunikasi .

Di juga harus mengevaluasi kriteria yang telah ditetapkan dalam tujuan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria untuk mengevaluasi contoh-contoh yang ada kinerja yang diinginkan atau respons.

Sementara tujuan menulis, perancang harus sadar bahwa pernyataan-pernyataan ini kriteria yang akan digunakan untuk mengembangkan penilaian untuk pengajaran. Perancang mungkin lagi memeriksa kejelasan dan kelayakan tujuan dengan bertanya, “Bisakah desain item atau tugas yang menunjukkan apakah seorang pelajar dapat berhasil melakukan apa yang digambarkan dalam tujuan?” Jika sulit membayangkan bagaimana hal ini dapat dilakukan dalam fasilitas yang ada dan lingkungan, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali.

Saran bermanfaat lainnya adalah sebaiknya tidak ia enggan untuk menggunakan dua atau bahkan tiga kalimat untuk secara memadai menggambarkan tujuan  Tidak ada persyaratan untuk membatasi tujuan ke satu kalimat. Diasumsikan bahwa siswa akan mempelajari bahan-bahan sebelum melakukan keterampilan.

C. Hasil Pengembangan

Tujuan Istructional   : Mengapresiasi karya seni rupa

No Keterampilan Subordinat Tujuan Performansi
1.1  Siswa dapat mengekspresikan  karya seni rupa 1.   Dengan   menyiapkan bahan dan alat siswa dapat  mengumpulkan  bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.
1.2 Siwa dapat  membuat karya seni kriya berupa kartu ucapan  dengan memanfaatkan  barang bekas  dilingkungannya 2.    Melalui diskusi siswa dapat  menyebutkan  bebrapa alat untuk membuat seni kriya.

3.    Dengan  menyiapkan alat dan bahan  siswa dapat memilih bahan dan alat yang  sesuai untuk pembuatan  kartu ucapan.

4.   Melalui eksplorasi  tentang bahan bahan bekas siswa dapat  menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya.

5.    Dengan mengamati beberapa contoh pola / desain  yang disiapkan guru siswa dapat  membuat desain  kartu ucapan.

6.    Dengan latihan  menbuat  pola  kartu ucapan  siswa dapat  membuat   bagian-bagian kartu ucapan.

7.    Melalui   kerja kelompok siswa dapat  mrenggabubgkan bagian-bagian pola kartu ucapan.

8.    Melalui kerja  kelompok  siswa dapat  menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan

%d bloggers like this: