Home » Pembelajaran » Teori Pendekatan Pembelajaran

Teori Pendekatan Pembelajaran

oleh Muhamad Khotib, Wahyuni  Satiwati, Uswatun Khasanah, Cip Aprina, Sujana
Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran Pasca Unila 2009 Dosen pengampu DR. Herpratiwi, M.Pd.
 
BAB I. PENDAHULUAN 

          Pendekatan pembelajaran adalah suatu  cara pandang terhadap obyek yang akan mewarnai seluruh jalannya proses pembelajaran (PAIKEM, PAINO, CTL, dsb). Atau dapat juga diartikan sebagai skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model, strategi, metode maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran.

Pembahasan  ini difokuskan pada lima pendekatan yang paling penting bagi paradigma baru pendidikan yaitu :

•        Pendekatan langsung

•        Pendekatan Diskusi

•        Pendekatan Pengalaman

•        Pendekatan Berbasis Masalah

•        Pendekatan Simulasi

Pada makalah akan dipaparkan tentang  pengertian,  cara-cara, implementasi dari pendekatan sebagaimana tersebut di atas. Pada Bab II akan dibahas Pendekatan Langsung yang dikemukakan oleh William G. Huitt, David M. Monetti, dan John Hummel dari Valdosta State University, menggambarkan elemen dasar dari basis pengetahuan umum tentang pendekatan langsung dalam pembelajaran.   Ini adalah metode yang dapat menjelaskan perbedaan siswa, kelompok siswa berdasarkan pretests, dan penyajian informasi dalam format yang aktif. Pembelajaran Langsung difokuskan pada interaksi guru-murid serta penilaian belajar secara terus-menerus. Pendekatan ini mungkin tidak populer tetapi akan berguna dalam sebuah paradigma abad informasi pendidikan. Pendekatan Langsung dapat digunakan sebagai pendekatan terpisah di dalam dirinya sendiri, dapat juga digunakan sebagai komponen dalam pendekatan-pendekatan lain, seperti pendekatan berbasis masalah atau pengalaman untuk membangun keterampilan dan pengetahuan yang lebih rendah. Huitt, Monetti, dan Hummel menunjukkan bahwa Pembelajaran Langsung terbukti melalui riset empiris untuk meningkatkan nilai tes standar-ukuran yang umum efektivitas pembelajaran yang semakin akuntabel dalam sistem pendidikan.

Dalam Bab III  Joyce Taylor Gibson menggambarkan unsur-unsur dari basis pengetahuan umum pendekatan diskusi dalam pembelajaran. Dalam metode untuk siswa membangun pengalaman ke dalam proses pembelajaran daripada mengandalkan sepenuhnya pada konten presentasi. Ada jenis belajar yang tampaknya terutama manfaat dari diskusi yang mendalam, seperti pengertian. Kami juga menghargai cara-cara di mana metode ini cenderung untuk mengubah hubungan kekuasaan yang didirikan antara peserta didik dan instruktur.

Dalam Bab IV pembelajaran pengalaman didefinisikan oleh Lindsey dan Nancy Lee Berger sebagai belajar dari pengalaman. Mereka melanjutkan untuk membedakan jenis pembelajaran sebagai berpusat pada peserta didik, otentik, dan mengarahkan diri dengan harapan kegagalan. Pembelajaran pengalaman yang sangat umum dan diteliti baik-pendekatan yang sangat kuat untuk belajar transfer ke dunia nyata nilai-nilai lingkungan dan keaslian, yang kita lihat sebagai penting dalam era informasi.

Dalam Bab V John Savery mendefinisikan pendekatan berbasis masalah dalam pembelajaran (FBI) sebagai pendekatan berorientasi berdasarkan pengalaman di mana siswa belajar menyelesaikan masalah. FBI memiliki banyak koherensi sebagai pendekatan, dalam semua metode cocok komponen sistemik bersama. Ini juga memiliki identitas yang cukup berbeda dibandingkan dengan jenis pembelajaran

Dalam Bab VI Andrew Gibbons, Mark McConkie, Kyeongju Seo Kay, dan David Wiley menentukan pendekatan simulasi termasuk instruksi sebagai model sistem dinamis, kemampuan siswa untuk mengubah model-model, nonlinier logika, peningkatan fungsi pembelajaran, dan tujuan pembelajaran tertentu.

 BAB II.  PENDEKATAN LANGSUNG

 A.      Pengertian

       Pendekatan Langsung dalam Pembelajaran adalah sebuah pendekatan yang menitik beratkan pada interaksi siswa dan penilaian secara terus menerus terhadap siswa.  Menurut Fisher et al. (1978) menyatakan bahwa guru-instruksi diarahkan harus terjadi selama lebih dari 50% dari pelajaran dan seatwork harus terjadi kurang dari 50%. Menurut Bloom (1981) menyatakan bahwa guru harus menyediakan organisasi yang jelas presentasi dengan langkah-demi-langkah perkembangan dari Subtopic untuk Subtopic didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan prasyarat.

Beberapa penelitian tambahan mengenai atribut pembelajaran langsung meliputi: (1) pretest atau dorongan pengetahuan yang relevan (Block, 1971); (2) lebih banyak interaksi guru-murid (Walberg, 1991); (3) penggunaan banyak contoh, visual prompt, dan demonstrasi untuk menengahi antara konkret dan konsep abstrak (Gage & Berliner, 1998); dan (4) penilaian konstan pemahaman murid sebelum, selama, dan sesudah pelajaran (Brophy & Good, 1986).

B.      Prinsip Umum

Pendekatan langsung terdiri dari empat tahap pembelajaran : (A) tahap presentasi; (B) tahap latihan; (C) penilaian sumatif dan tahap evaluasi, dan (D) Tahap pemantauan dan pemberian feedback siswa.

  1. Tahap Presentasi

Ada lima metode pembelajaran penting yang harus digunakan selama tahap presentasi pembelajaran langsung: (1) review materi sebelumnya atau keterampilan awal yang diperlukan; (2) pernyataan mengenai pengetahuan atau keterampilan khusus yang harus dipelajari; (3) pernyataan atau pengalaman yang menyediakan siswa dengan penjelasan tentang mengapa tujuan khusus ini penting; (4) yang jelas, penjelasan pengetahuan atau keterampilan yang harus dipelajari, dan (5) beberapa kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman awal mereka menanggapi pemeriksaan guru.

1).    Review

Pada metode pertama, guru dan siswa mengecek pengetahuan atau keterampilan yang relevan atau prasyarat untuk Pembelajaran yang akan dipelajari. Guru dapat memeriksa pekerjaan rumah siswa atau mendiskusikan materi sulit tentang pelajaran sebelumnya (Walberg, 1999). Guru juga dapat menciptakan suatu kegiatan yang memiliki konsep dan siswa memanfaatkan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya.

Yang terpenting adalah mengaktifkan semua pengetahuan siswa sehingga mereka dapat lebih mudah menghubungkan ke informasi baru (disebut elaborasi oleh teori pemrosesan informasi seperti Craik & Lockhart, 1972).

2).      Apa

Dalam metode kedua, guru menjelaskan apa yang harus dipelajari dalam pelajaran tersebut. Aspek yang paling penting dari metode ini adalah bahwa siswa harus diinformasikan secara eksplisit apa yang seharusnya mereka dapat pada akhir proses belajar. Ada dua jenis guru dapat dimasukkan dalam metode ini. Yang pertama adalah tujuan Aktivitas diukur dengan evaluasi formatif dan kedua adalah tujuan akhir diukur dengan penilaian sumatif.

3).      Mengapa

Pada metode ketiga, guru menjelaskan betapa pentingnya tujuan tertentu bagi siswa untuk menguasai.

4).      Penjelasan

Guru menjelaskan Kompetensi yang akan dituju. Dari Subtopik yang satu ke subtopik yang lain akan saling berhubungan. Guru harus memberikan contoh dengan menggunakan Flowchart agar siswa lebih jelas menerima penjelasan dari guru tersebut.

5).      Pemeriksaan dan Tanggapan

Guru menjelaskan pada murid-murid sampai mereka mengerti sehingga mereka dapat memberikan respon dan guru memeriksanya dengan memberikan pertanyaan.

  1. Tahap Latihan

Terdapat tiga metode pengajaran dalam tahap latihan : (6) latihan terbimbing langsung dibawah pengawasan guru, (7) latihan mandiri dimana siswa mengerjakan sendiri, dan (8) tinjauan berkala (sering dimasukkan setiap hari dalam praktek dibimbing dan mandiri) dimana sebelumnya siswa belajar memanfaatkan konten atau skills.

6).                  Latihan Terbimbing

Dalam metode keenam, siswa praktek pengetahuan atau keterampilan baru di bawah pengawasan langsung guru (Walberg, 1999). Siswa bisa bekerja sendiri, berpasangan, atau dalam kelompok-kelompok kecil. Selama proses pembelajaran, guru harus aktif memonitor kegiatan siswa dan segera memberikan umpan balik. Pada akhir metode ini, guru gambaran setiap siswa tentang pengetahuan atau keterampilan yang dikuasai.

7).      Latihan Mandiri

Latihan mandiri dapat diwujudkan dalam bentuk pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh siswa secara mandiri di rumah.

8).      Tinjauan Berkala

Setelah memberikan pembelajaran dan latihan maka guru harus selalu melakukan tinjauan atau pemeriksaan secara berkala tentang pembelajaran atau tujuan yang akan di capai.

  1. Tahap Penilaian dan Evaluasi

Ada dua penilaian dan evaluasi pada pembelajaran langsung yaitu (9) tes formatif, dan (10) tes sumatif.

9).      Tes Formatif

Tes formatif dilakukan diakhir pelajaran untuk mengukur kemajuan belajar siswa

10).  Tes Sumatif

Tes Sumatif dilakukan untuk mengukur penguasaan konsep dan keterampilan. Tes ujian sumatif dapat dilakukan diakhir semester atau tahun.

  1. Monitoring dan Feedback

Pemantauan dilakukan pada tahap 1, 2 dan 3. Jika diperlukan maka diberikan umpan balik agar proses presentasi, latihan dan penilaian berjalan sesuai yang diharapkan.

BAB III.  PENDEKATAN DISKUSI

 A.      Pengertian

   Pendekatan Diskusi dalam pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).

B.      Prinsip Umum

       Semua prinsip umum pendekatan diskusi termasuk dalam prinsip pertama pembelajaran Merrill. Pada bagian ini akan lebih dibahas gambaran prinsip pendekatan diskusi secara lebih lengkap :

  1. keterlibatan siswa dalam permasalahan hidup sehari-hari adalah prinsip pertama Merrill   mengenai   belajar.   Belajar  aktif biasanya  amat  memerlukan  keterlibatan masalah sehari-hari. agar pelajar dapat menghubungkan ide-ide baru yang dapat memecahkan permasalahan tersebut. Bertanya adalah alat utama dalam pembelajaran diskusi dan dimana termasuk pendekatan pelajar dalam merespon perbedaan latar belakang yang unik, yang mencerminkan apresiasi pada budaya dan pengalaman.
  1. Keaktifan,   lebih   kepada   membangun   pengetahuan   yang   ada   sebagai   awal pembelajaran baru. Karena peserta pembelajaran diskusi  di tuntut untuk bereaksi pada pertanyaan yang kompleks (rumit), terstruktur dan di contohkan oleh instruktur pada awal diskusi, peserta akan menggunakan pengetahuan yang telah diketahuinya, begitu pula dengan terpacunya pemikiran kritis. Sebuah konsep yang disebut linking (menjembatani), juga diatur oleh instruktur untuk menghubungkan pengetahuan yang ada dan informasi-informasi baru.
  1. Pendemonstrasian konsep belajar yang baru, yaitu pembuktian bahwa konsistensi instruktur. Yang menawarkan informasi dan mengarahkan ke sumber yang relevan pada siswa, yang terfokus pada tujuan-tujuan belajar.
  1. Pengaplikasian pengetahuan baru, diskusi  kelompok kecil  yang  bebas,  dengan pengorganisasian yang baik, dapat membantu siswa dalam mengaplikasikan konsep baru.
  1. Integrasi dari pengetahuan yang baru terhadap siswa dapat ditemukan melalui beberapa pendekatan.

Berikut ini adalah prinsip umum dari pendekatan diskusi dalam pembelajaran yang ada hubungan dengan beberapa prinsip pembelajaran termasuk prinsip pembelajaran Merill.

1.    Pembagian tanggung jawab ;

Pembelajaran diskusi harus menggeser pembelajaran  yang berpusat pada menjadi pendekatan yang berpusat pada tanggungjawab belajar bersama antara guru dan siswa. Pembagian tanggungjawab ini tidak berarti mengurangi peran guru dalam proses pembelajaran tetapi mengelola dan mengarahkan interaksi antara guru-siswa dan siswa-siswa. Oleh karena itu harus ada pengaturan peran dan tugas yang jelas.

2.   Kolaborasi   dan   berbagai  perspektif ;

Pembelajaran diskusi harus  dapat menciptakan   suasana   kolaborasi   dan   apresiasi   terhadap   beragam perspektif dan pandangan dari semua peserta diskusi. Pembelajaran diskusi lebih sulit karena adanya siswa yang pasif. Oleh karena itu harus dimulai mengenalkan silabus, pendahuluan, model yang digunakan dan pembinaan dan pengawasan langsung sampai siswa memahami perannya.

3.    Kompetensi  instruktur ;

disiplin dan terampil  ;  instruktur dituntut untuk memiliki persiapan, mulai dari sharing knowledge (bertukar pengetahuan) hingga  mengatur jalannya diskusi,  memiliki  metode  untuk  menjalankan prinsip-prinsip discussion teaching secara efektif.

4.    Pengalaman   hidup   ;

Dalam pembelajaran diskusi pengalaman hidup siswa harus diakui dan dimanfaatkan dalam proses belajar. Bagaimana orang berbicara satu sama lain, apa yang mereka katakan, jenis pertanyaan yang diajukan satu sama lain, frekuensi interaksi, jumlah waktu yang dihabiskan bersama-sama, cara orang menanggapi semua harus dilakukan dengan cara orang menganggap satu sama lain dan membangun hubungan . Apa yang terjadi dalam komunitas pembelajaran ini berdampak pada bagaimana orang belajar, apa yang mereka pelajari, dan bagaimana mereka menggunakan pengetahuan yang berasal dari diskusi

5.    Aktifitas untuk pembelajaran yang lebih tinggi ;

Pembelajaran diskusi harus mencakup mendengarkan, merefleksikan, menanggapi dan menghubungkan sebagai kegiatan yang penting dalam meningkatkan pembelajaran yang lebih tinggi. Melalui prinsip ini bahwa baik guru dan siswa memiliki kesempatan untuk melahirkan pengetahuan baru, baik melalui presentasi atau penemuan.

6.    Komunitas belajar yang demokratis ;

Setiap orang harus memiliki hak yang sama dalam mengutarakan pendapatnya tanpa harus takut tentang isi dan bagaiamana pendapatnya tersebut. Kebebasan untuk berpartisipasi membangun iklim kepercayaan selama diskusi, memeriksa nilai, dan bekerja melalui aturan-aturan dasar umum untuk diskusi oleh pihak-pihak yang berpartisipasi.

7.   Lingkungan Fisik ;

harus menyediakan kondisi yang tepat untuk suling berinteraksi. Tersedianya fasilitas seperti : kursi, meja, alat persentasi, papan tulis dan sebagainya.

B.      Prinsip Khusus

1.   Usia dan Pengalaman Belajar Siswa Penyesuaian dalam prinsip utama berbagi tanggung jawab untuk belajar diperlukan ketika peserta masih sangat muda, anak-anak dengan kebutuhan khusus, peserta yang memiliki hambatan bahasa atau hanya kurangnya kefasihan dalam bahasa pengantar. Situasi ini referensi berbagai jenis pelajar. Pada kondisi seorang guru harus lebih kreatif kalau memungkinkan berdiskusi dengan siswa untuk mencari solusinya

2.    Jarak atau kelas online menggunakan pendekatan ini akan membutuhkan penyesuaian karena ketergantungan pada teknologi sebagai sarana tambahan interaksi di antara peserta. Situasi ini terutama referensi perbedaan dalam jenis lingkungan belajar, dan dapat menimbulkan kendala instruksional tergantung pada kecanggihan teknologi alat-alat yang digunakan.

3.    Ketahanan siswa : motivasi dan ketahanan siswa untuk ikut serta secara aktif pada diskusi.

C.      Praktek Pembelajaran Diskusi

          Mempraktekan pendekatan diskusi dalam pembelajaran dapat menggunakan langkah-langkah berikut :

1.    Membuat Rencana

Sebuah rencana pengajaran merupakan alat yang diperlukan tidak hanya memberikan arah bagi instruktur dan peserta, tetapi juga dapat menjadi sumber daya selama diskusi. Perencanaan ini arus mencakup penetapan tujuan belajar.

2.    Mengembangkan Outline Konsep

Mengenali konsep-konsep utama, sub topik untuk kemudian memudahkan dalam menganalisa dan memberikan petunjuk dalam pembelajaran diskusi.

3.    Menambahkan Pertanyaan pada Outline

Penambahan pertanyaan harus sesuai dengan outline biasanya berupa pemikiran umum yang membangun pemikiran kritis dan harus dirancang dengan penuh perhitungan agar hasilnya maksimal.

4.    Membuat outline yang dapat dilihat.

Outline yang dibuat dalam dua bagian, yaitu : konsep dan pertanyaan. kalau diperlukan outline  ditulis di papan tulis.

          Pendidikan Siswa

     Persiapan yang utama yang harus diperhatikan oleh guru dalam menyiapkan siswa dalam berdiskusi adalah menjaga perspektif pemikiran siswa dalam berdiskusi. Beberapa ide untuk membantu peserta dalam menyesuaikan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran diskusi antara lain :

  1. Model proses dengan demontasi nyata,
  2. Memberikan harapan dari metode ini,
  3. Menetapkan aturan-aturan dasar,
  4. Merancang sesi latihan, dan
  5. Antisipasi rintangan dan masalah.

          Diskusi

       Ada beberapa cara untuk memulai diskusi:

  1. meminta relawan untuk menanggapi pertanyaan;
  2. panggilan pada siswa tertentu untuk merangkum pokok-pokok;
  3. tempat siswa dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama,
  4. mengidentifikasi pembicara untuk berbagi temuan mereka; atau
  5. meminta masing-masing siswa untuk mengajukan satu pertanyaan tentang permasalahan

          Penutup

  1. Berikan rangkuman. untuk membantu siswa merefleksi hasil dikusi dan materi yang didiskusikan.
  2. Pada penutup, sertakan pula sesi kritik untuk mengetahui kekurangan selama diskusi

 

BAB IV.   PENDEKATAN PENGALAMAN

 A.      Pengertian

Pendekatan pengalaman dalam pembelajaran adalah sebuah pendekatan yang Menitikberatkan proses pembangunan pengetahuan dari pengalaman-pengalaman yang dialami dalam kehidupannya. Akar dari teori pengalaman pembelajaran ditemukan oleh John Dewey (1916/1966) mencatat bahwa seorang anak mempelajari cara untuk menerbangkan layang-layang bukan karena fakta diluar yang dibawa dalam otaknya atau akalnya, tetapi karena pengalaman langsung bermain layang-layang. Dewey berpendapat bahwa orang-orang yang belajar melalui kehidupan mereka dalam sebuah proses dari pengalaman utama dan pengalaman yang kedua (tambahan). Penagalaman utama adalah seperti melakukan pekerjaan menerbangkan layang-layang sedangkan pengalaman tambahan adalah cara dimana orang-orang mungkin memproses pengalamannya itu seperti mengingat kembali dari teman sebaya atau gurunya. Ide dari proses pembelajaran ini terdapat dari pengalaman utama dan tambahan membentuk dasar dari kebanyakan model pengalaman pembelajaran.

Dewey mencatat bahwa kwalitas dari pengalaman adalah yang utama. Pengalaman dan pendidikan tidak  bisa secara langsung disamakan karena pada kenyataannya beberapa pengalaman ada yang tidak mendidik sehingga mereka menahan atau mengaburkan perkembangan dari pengalaman yang akan datang (Dewey 1938).

Penggunaan pengalaman sebagai dasar untuk pembelajaran memberikan beberapa tantangan , sedikitnya ada dua kritik:

1.    Tidak semua pengalaman memberikan /menawarkan kesempatan pembelajaran yang baik, beberapa mungkin tidak memberikan/tidak mengandung informasi yang berarti atau bahkan mungkin mengandung informasi yang salah.

2.    Walaupun pengalaman-pengalaman itu memberikan potensi menjadi kesempatan pembelajaran yang baik, interpretasi seseorang dari sebuah pengalaman mungkin menjadi kesalahan penjelasan pelajaran yang diambil dari pengalaman tersebut mungkin berubah menjadi tidak berhubungan, tidak sesuai atau bahkan kesalahan yang fatal ( Zakay at al.,2004,p.151).

B.      Prinsip Umum

 Abeberapa metode atau prinsip dalam pendekatan pengalaman dalam pembelajaran, yaitu (1) framing the experience (Merangkai pengalaman) ; (2) Activating experience (Menggerakkan pengalaman) ; dan (3) Reflecting on experience (Mengevaluasi pengalaman) :

Framing Experience

Activating Experience

Reflecting on Experience

  1. Merangkaikan Pengalaman
    1. Menetapkan tujuan atau hasil pembelajaran
    2. Membicarakan kriteria penilaian
    3. Membangun hubungan (teman sebaya, guru,komunitas dan lingkungan)
    4. Menggerakkan Pengalaman
      1. Pengalaman nyata
      2. Membuat keputusan hasil yang nyata
      3. Orientasi Masalah
      4. Kesulitan Optimal

3.    Evaluasi/Penilaian dalam Pengalaman

  1. Fasilitas guru sebagai fasilitator
  2. Membuat kelompok
  3. Proses : Apa yang terjadi , mengapa itu terjadi , apa yang telah dipelajarai dan bagaimana cara mengaplikasikannya.

C.      Prinsip Khusus

        Setelah membahas prinsip umum sekarang kita bahas prinsip khusus, yaitu berupa metode-metode yang bervariasi yang akan digunakan pada pembelajaran. Prinsip khusus ini berkaitan erat dengan lokasi, pelajar dan kendala-kendala dalam pembelajaran. Contoh : Metode-metode yang mana harus digunakan pada sebuah tempat yang jauh atau tempat bekerja berbeda dari  mereka yang digunakan di dalam kelas .

1.    Prinsip 1 Metode-metode bervariasi untuk mengumpulkan pengalaman.

       (Variable Methods for Framing the Experience)

Menciptakan komunitas pada kejauhan (berdasar Web) di dalam pembelajaran jarak jauh, dalam hal ini amatlah sukar untuk menciptakan sebuah pengertian hubungan diantara yang satu dan lainnya dari siswa dan pengajar. Teknologi web, bagaimanapun juga telah membuka pintu untuk menciptakan sebuah komunitas pelajar yang efektif pada sebuah kejauhan. Kita berbicara di sini dari sudut pandang pengalaman online secara berkeseluruhan, tetapi pendekatan-pendekatan gabungan juga dapat mengambil keuntungan dari pembelajaran kapan saja/dimana saja diantara anggota kelas yang memungkinkan lewat teknologi web. Untuk itu metode-metode ini direkomendasikan untuk pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran konteks gabungan.

Membangun struktur sosial diantara siswa-siswa

Ketika sebuah pengalaman melibatkan partisipasi lebih dari satu pelajar, membangun sebuah hubungan  social diantara siswa adalah kesempatan lain untuk mendefinisikan asal usul (dasar) sebuah pengalaman.

Cheney (2001) mendeskribsikan interaksi berstruktur dengan contoh seorang mahasiswa universitas bisnis digabungkan berdua dgn seorang mahasiswa internasional untuk berinteraksi secara langsung dalam bntuk apapun, termasuk studi kasus, berdiskusi topic, dan bermain peran. Agar interaksi berstruktur berfungsi dengan baik, seorang profesornya harus memastikan bahwa mahasiswa tsb menganggap mereka sendiri berada pada status yg sama, mengerti kebebasan mereka untuk mndapatkan pengalaman yang baik, dan berkesempatan untuk mengenal satu sama lainnya.

Menyediakan petunjuk yang mendukung

Pengumpulan pengalaman dan menambil bentuk penyediaan pengajaran berdasarkan isi yang mendukung untuk memberikan pelajar sebuah pengatahuan yg fundamental yg mereka butuhkan untuk berhadapan langsung dan menafsirkan sebuah pengalaman.

Mengatur Suasana/Peraturan/sikap/Harapan

Ketika terdapat sebuah situasi yang kebuntuan pada sebuah masalah, seperti pada sebuah game, simulasi atau bermain peran, cukuplah penting untuk mengikuti sebuah proses pengaturan situasi, peraturan, tatacara/sikap, dan harapan. Situasi yang buntu ini dapat memberikan pelajar memikirkan sebuah cara untuk mencari solusi alternative yg sesuai dengan harapan mereka.

Membangun lingkungan beretika.

Membangun lingkungan untuk bermain peran dan simulasi menempatkan peseta pada posisi orang lain. dimana siswa untuk membangun empati atau kesepahaman, mungkin ada pertimbangan etis yang signifikan (Arthur & Achenbach, 2002)

  1. 3.        Prinsip 2

Pengaktifan pengalaman ini mencakup sebuah rangkaian dari pengalaman masa lalu sebagai dasar sebuah pembelajaran.

Mengaktifkan pengalaman yang dahulu

Terdapat beberapa metode yang tersedia untuk mengaktifkan pengalaman yang utama seperti diskusi kelas, bercerita, buku catatan masa lalu dan narasi kasus yang krisis.

Mengaktifkan pengalaman baru

Terdapat beberapa metode untuk mengaktifkan pengalaman yang baru diantaranya simulasi, permainan, bermain peran, studi lapangan, perjalanan langsung, percobaan, proyek pembelajaran aksi, dan metode – metode yang melibatkan pengalaman yang autentik pada setiap pelajar.

3.    Prinsip 3

Beberapa metode untuk mengevaluasi Pengalaman

(Variable Methods for Reflection on Experience)

Penggunaan jurnal dan portofolio sebagai cara untuk merefleksi didiskusikan pada bagian ini. Beberapa metode yang ditulis sebelumnya dalam mengaktifkan pengalaman dapat dipertimbangkan sebagai pengaktifan dan refleksi adalah seperti diskusi dan bercerita.

Jurnal dan portofolio adalah alat refleksi/pemikiran yang melibatkan siswa berada pada proses berstruktur dari pendokumentasian dan pemikiran dalam pengalaman mereka. Jurnal dan portofolio berfungsi untuk memperkuat kapasitas pemikiran dari seorang individu. dalam arti kedua hal tersebut sangat berguna pada beberapa situasi tetapi dapat juga mempersembahkan tantangan ketika menghadapi situasi yang lain.

          Metode-metode tambahan

Pelaksanaan pelajaran/ kesimpulan pada pengalaman baru adalah metode utama yang penting yang harus dilakukan ketika waktu terbatas. Ketika waktu pengajaran terbatas, seorang guru mungkin memperoleh penggunaan dari sebuah pengetahuan baru lewat diskusi.

D.      Kesimpulan

Desain teori pengajaran beradasar pengalaman ini diperoleh dari sebuah ujian teori  pengalaman pembelajaran, data empiris, dan sebuah bukti nyata dari pengalaman yang actual dan dalam melakukan sesuatu sehingga hal-hal tersebut didasarkan pada sebuah pendekatan konstuktivis social untuk pembelajaran. Desain teori ini ditawarkan sebagai sebuah langkah dalam membangkitkan sebuah dasar pengetahuan umum tentang pengajaran berdasarkan pengalaman, dengan sebuah terminology/pengertian yang umum.

Ketika individu belajar dari pengalaman, hal itu melewati pemahaman yang terbagi dan pemikiran pada pengalaman dimana pembelajaran berlangsung pada saat yang paling efektif dalam pengajaran berdasar pengalaman.

BAB V.  PENDEKATAN BERBASIS MASALAH

 A.           Pengertian

Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan istilah problem based learning (PBL), pada awalnya dirancang untuk bidang kesehatan oleh Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program kependidikan oleh Stepein Gallager (1993). PBL ini dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses dimana pembelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran.

Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu 1) belajar adalah suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process) 2) belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari pelajaran (Wilkerson & Gijselaers, 1996). Teori ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran terdapat proses konstruksi pengetahuan oleh pembelajar, terjadi interaksi social baik antar mahasiswa maupun dosen serta materi perkuliahan yang bersifat kontektual. Berdasarkan dua prinsip yang terkandung dalam PBL, maka dosen harus mampu memberikan kondisi terjadinya kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ingin dipelajarinya

Torp dan Sage (2002), yang telah melakukan kerja cukup dengan siswa sekolah menengah di Akademi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Illinois (http://www.imsa.edu), menjelaskan FBI (atau PBL) sebagai berikut:

PBL menyediakan pengalaman otentik yang mendorong belajar aktif, mendukung konstruksi pengetahuan, dan tentu saja mengintegrasikan pembelajaran sekolah dan kehidupan nyata; pendekatan kurikulum ini juga membahas negara dan standar nasional dan mengintegrasikan disiplin. Situasi yang problematis menawarkan sekitar pusat kurikulum yang terorganisir, menarik dan mempertahankan siswa kepentingan dengan resolusi sementara kebutuhan untuk membuka berbagai perspektif. Siswa terlibat pemecah masalah, mengidentifikasi akar masalah dan kondisi yang dibutuhkan untuk suatu solusi yang baik, mengejar pengertian dan pemahaman, dan mengarahkan diri menjadi pembelajar. Guru adalah rekan pemecahan masalah yang menarik dan antusias untuk belajar dan juga pelatih kognitif yang memelihara suatu lingkungan yang mendukung penyelidikan terbuka, (hal. 15)

B.            Karateristik

Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik (Barrows : 1996)yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu :

1)      pembelajaran bersifat student centered,

2)      pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil,

3)      guru berperan sebagai fasilitator dan moderator,

4)      masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk mengembangkan ketrampilan problem solving,

5)      informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).

Dalam pendekatan problem solving yang konvensional, siswa disuguhi permasalahan setelah mereka dipresentasikan informasi-informasi mengenai materi perkuliahan dengan demikian siswa mungkin tidak mengetahui mengapa mereka belajar tentang apa yang dipelajari.

Implementasi PBL dirancang dengan struktur pembelajaran 1) siswa secara individual maupun kelompok dihadapkan pada suatu masalah yang kontektual, 2) masalah yang dikonfrontasikan diusahakan sedekat mungkin dengan kehidupan siswa sehari-hari, 3) fasilitator menyiapkan materi perkuliahan yang dapat menuntut siswa kearah pemecahan masalah, 4) memberikan tanggungjawab kepada siswa untuk mengarahkan sendiri pembelajarannya, 5) membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran, 6) menuntut agar siswa menampilkan apa yang telah dipelajari (Savoi&Anderw,1994). Sedangkan Brooks & Martin (1993) secara lebih rinci menguraikan beberapa ciri penting dari PBL, sebagai berikut: (1) tujuan pembelajaran dirancang untuk mengembangkan keahlian mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, (2) adanya keberlanjutan masalah, dengan syarat masalah harus memunculkan konsep dan prinsip yang relevan dengan materi perkuliahan yang dibahas dan masalah harus bersifat riil, (3) adanya presentasi masalah sehingga pembelajar merasa memiliki masalah tersebut, (4) pengajar berperan sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam pemecahan masalah.

  1. C.           Teori Kognitif

Resnick (1989) menyarankan tiga teori kognitif yang saling terkait untuk menjelaskan keuntungan dari pendekatan belajar berbasis masalah :

(1)     Belajar adalah sebuah proses konstruksi pengetahuan, pembelajaran terjadi bukan oleh penyimpanan informasi ulang tetapi menafsirkan informasi (Duffy dan Cunningham, 1996);

(2)     Belajar adalah mempertahankan pengetahuan, orang menggunakan pengetahuan saat ini untuk membangun pengetahuan baru ; Pengetahuan dan pengalaman yang didukung oleh penelitian tentang pemecahan masalah sebagai unsur penting dalam analisis masalah yang efektif dan pengembangan solusi yang layak (Jonassen, 2004).

(3)     Belajar sangat sesuai untuk situasi di mana itu terjadi.

Belajar Adalah Proses Konstruksi Pengetahuan

Duffy dan Cunningham (1996) mencatat pentingnya belajar aktif, dari kedua pemahaman dan Perubahan pemikiran pelajar dan penggunaan sejarah pendekatan berbasis penemuan sebagai stimulus untuk belajar, termasuk istilah Piaget disequilibration dan Dewey istilah dari gangguan. Mereka membahas perbedaan antara teori-teori konstruktivis kognitif kognisi individu dan sosial structivist con-teori sosial dan budaya terletak kognisi (Katz & Chard, 1989; Moll, 1990; Vygotsky, 1978; Wertsch, 1991). Dapat dikatakan bahwa kedua aspek komponen konstruktivisme diperlukan FBI yang berkontribusi terhadap pengalaman belajar yang efektif.

Belajar adalah Mempertahankan Pengetahuan

Penelitian oleh Glaser (seperti dikutip oleh Resnick, 1989) menunjukkan bahwa baik penalaran dan belajar adalah didorong pengetahuan dan, lebih khusus lagi, bahwa “Mereka yang kaya pengetahuan-alasan yang lebih mendalam. Mereka yang rumit seperti dengan demikian mereka belajar dan belajar lebih efektif. Pengetahuan dengan demikian melahirkan pengetahuan “(hal 2).¬ Pengetahuan dan pengalaman yang didukung oleh penelitian tentang pemecahan masalah sebagai unsur penting dalam analisis masalah yang efektif dan pengembangan solusi yang layak (Jonassen, 2004).

Belajar adalah Menghubungkan secara erat terhadap Situasi

Teori fleksibilitas kognitif (Spiro et al., 1991) menunjukkan bahwa menggunakan rumit, berantakan, masalah di dunia nyata membantu siswa untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan mereka belajar untuk masa depan yang kompleks, masalah di dunia nyata dan belajar untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk masalah struktur yang terputus (Jonassen, 1997). Dalam nada yang sama, Bransford, Brown, dan Cocking (2000) mengidentifikasi FBI sebagai strategi untuk mendorong transfer pembelajaran antara sekolah dan kehidupan sehari-hari (hal. 77).

D.           Prinsip Umum

Ada konsistensi dan konvergensi luar biasa di antara para peneliti dan praktisi mengenai prinsip panduan untuk desain PBI yang efektif. Empat kelompok utama prinsip-prinsip yang akan diuraikan dalam bagian berikut ini:

  1. 1.        Pemilihan masalah

PBI ini dirancang untuk mendukung pengembangan dan penyempurnaan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini tidak cocok sebagai strategi instruksional untuk mengajarkan keterampilan dasar. Pendekatan PBI memerlukan pemilihan masalah yang pembelajar (bahkan pelajar muda) telah memiliki pengetahuan, yang mereka peroleh dari pengalaman hidup, sehingga penerapan pengetahuan ini dengan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan pemecahan masalah dapat menghasilkan pemahaman lebih dalam.

Beberapa contoh masalah yang digunakan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah:

  1. Masalahnya harus didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan yang diamanatkan oleh kurikulum.
  2. Masalahnya harus melibatkan pelajar dalam aspek signifikan
  3. Masalahnya harus otentik, kontemporer, dan relevan.
  4. Masalahnya seharusnya mewajibkan pelajar untuk memanfaatkan pengetahuan yang sama, keterampilan, dan sikap seperti yang akan diperlukan dalam pengaturan dunia nyata.
  5. Masalahnya harus cukup rumit dan cukup besar untuk menantang para pembelajar dan memerlukan kontribusi dari semua anggota tim.
  6. Masalahnya harus memotong struktur dengan menghilangkan atau mempertentangkan informasi.
  7. Menyediakan bahan pembelajaran yang terkait dengan pengembangan keterampilan.
  1. 2.        Peran guru.

Hal yang paling penting dalam keberhasilan pelaksanaan FBI adalah kemampuan guru berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran dan bukan sebagai penyedia informasi atau materi.

Beberapa yang perlu dipertimbangkan:

  1. Guru berulang kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali kedalaman pengetahuan pebelajar.
  2. Guru memfokuskan pada proses kerja kelompok untuk memastikan bahwa semua peserta didik dalam kelompok yang terlibat dan mengartikulasikan pemahaman mereka tentang masalah, proses pemecahan masalah, dan solusi yang diusulkan.
  3. Guru mendorong peserta didik untuk berpikir pada tingkat metakognitif dan mendukung pengembangan pembelajaran mandiri.
  4. Guru menghindari peran penyedia informasi sebanyak mungkin dengan membuat sumber-sumber informasi yang tersedia dan mempromosikan kerjasama dengan teman-teman yang mungkin memiliki keahlian atau pengetahuan yang diperlukan.
  5. Guru harus mempunyai sense yang baik, tidak membosankan atau membuat frustrasi para pembelajar dan memodulasi masalah dengan memberikan bimbingan untuk membuat masalah lebih mudah dikelola.
  1. 3.        Penilaian autentik praktek untuk memvalidasi tujuan pembelajaran.

Bagaimana kita menilai individu yang bekerja dalam kelompok pada sebuah masalah yang holistik, berdasarkan pada praktek, sakit-terstruktur, dan kontemporer?

Penggunaan penilaian autentik FBI, mempertimbangkan hal berikut:

  1. Instruktur / guru harus sangat mengerti yang dimaksud (atau antisipasi) hasil pembelajaran yang berkaitan dengan masalah yang diajukan ke pelajar. Strategi penilaian yang digunakan harus selaras dengan hasil yang diinginkan.
  2. Penilaian sumatif dilakukan pada akhir siklus pemecahan masalah. kelompok siswa dinilai berdasarkan pada solusi yang ditawarkan mereka untuk memecahkan masalah tersebut.
  3. Penilaian formatif dapat terjadi setiap saat dalam siklus FBI. Barrows (1988) menunjukkan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran mereka diuji dengan menuliskan pengetahuan yang didapat pada proses pemecahan masalah.
  1. 4.    Gunakan penjelasan ulang secara konsisten dan menyeluruh.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh desainer instruksional adalah :

  1. 1.    Tujuan dari proses pembekalan ini adalah untuk membantu peserta didik untuk mengenali, verbalisasi, dan mengkonsolidasikan apa yang telah mereka pelajari, dan untuk mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang ada.
  2. 2.    Tugas guru adalah untuk memastikan suara yang sama bagi semua peserta, jadi hati-hati untuk mendengarkan semua anggota dan meminta semua anggota untuk mereka berpendapat dan bercommentar.
  3. 3.    Ikuti tanya jawab didirikan protokol. Tahu generik dan spesifik pertanyaan untuk diminta untuk memandu sesi tanya jawab. Siapkan pertanyaan ide / topik untuk memastikan bahwa Anda (sebagai debriefer) mengingat semua pembelajaran yang telah dibahas dalam kegiatan FBI.
  4. 4.    Ajukan pertanyaan yang mendorong peserta didik agar sesuai dengan pengetahuan baru ke dalam skema yang ada.
  5. 5.    Dorong peserta didik untuk mendaftar apa yang telah mereka pelajari dengan menggunakan peta konsep-menyediakan bahan-bahan yang diperlukan.
  1. E.            Prinsip Khusus (Situasional)

Situasi 1  :  Pebelajar yang kurang memiliki pengalaman dengan PBI

Pembelajaran dengan Pendekatan berbasis masalah mengharuskan siswa memverbalisasi pemahaman mereka, bekerja dalam tim kolaboratif, dan melakukan penelitian mandiri. Jika siswa belum terbiasa dengan proses pendekatan belajar berbasis masalah guru harus memberikan cukup banyak upaya dalam memecakan pengalaman belajar mereka.

Situasi 2  :  PBI dengan menggunakan kelas besar

Ada dua strategi yang dapat dilakukan untuk mensikapi kelas besar. Strategi pertama, bagi kelas menjadi kelompok-kelompok yang duduknya saling berhadapan sehingga mereka bisa bekerja secara kelompok dalam meecahkan masalah dan menghilangkan peranan guru yang dominan. Strategi kedua, menggunakan denah kelas untuk kelas besar dan siswa tidak boleh berpindah-pindah sehingga guru mudah memonitor.

  1. F.            Ringkasan

Apa yang dilakukan para profesional seperti dokter, pengacara, ilmuwan, insinyur, dan arsitek? Mereka mendiagnosa masalah dan mengembangkan solusi. Dua prinsip-prinsip desain yang merupakan kunci bagi keberhasilan sebuah pendekatan FBI adalah menentukan masalah yang sesuai dalam waktu seluruh kurikulum dan kemampuan guru pada pengembangan keterampilan dan kemampuan metakognitif

 

BAB VI.  PENDEKATAN SIMULASI

 A.      Pengertian

Pendekatan simulasi adalah desain pembelajaran berbasis simulasi dan microworld. Desain simulasi dan microworld lebih beragam dan luas dibandingkan dengan desain lain.  Pendekatan simulasi adalah sebuah pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa terlibat langsung dengan model-model fisik yang dinamis atau konsep-konsep dimana pendekatan ini dirancang untuk menambah fungsi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran lebih dari satu.

Pendekatan simulasi menuntut siswa melaksanakan tugas-tugas kompleks dan memilih tugas dan kebutuhan yang harus dilaksanakan pada saat tertentu sehingga membantu mereka belajar mandiri.

Ada tiga kriteria umum berlaku untuk desain pembelajaran simulasi menurut Atkinson & Wilson, 1969, sebagai berikut :

  1. Kriteria Mengadaptasi yaitu Kemampuan untuk memodifikasi kualitas dari pembelajaran berbasis pengalaman berdasarkan tindakan yang dilakukan oleh pelajar
  2. Kriteria menggeralisasi – Kemampuan untuk menghasilkan beberapa bagian dari pembelajaran pada saat digunakan.
  3. Kriteria skalabilitas – Kemampuan untuk menghasilkan pengalaman instruksional dalam kuantitas yang lebih besar tanpa terkait kenaikan biaya.

Dalam pendekatan simulasi ada lingkungan yang dikondisikan yang disebut microworld. Microworld adalah sebuah model lingkungan yang berpusat pada model yang dibangun oleh para pelajar, menggunakan bagian dan alat-alat yang disediakan oleh perancang (Colella, Klopfer, & Resnick, 2001; Papert, 1993; Rieber, 1996). Model ini kemudian digunakan oleh pelajar melalui panduan atau mengarahkan siswa mengeksplorasi dan bereksperimen untuk mempelajari prinsip-prinsip dan hubungan tentang perilaku model, seperti yang dibangun, di bawah kondisi percobaan yang berbeda.

B.      Prinsip Umum

Secara umum desain pendekatan simulasi memiliki tujuh prinsip umum, sebagai berikut :

1.    Fungsi Isi

Bagian ini menjelaskan prinsip-prinsip untuk mengatur isi modul fungsional dari sebuah pembelajaran simulasi. Konten Simulasi mengambil model yang dinamis replika sistem nyata atau khayalan.

a.     Abstract Models

b.     The “Right” Models

c.     Three Kinds Of Models

d.    The Form of Models

e.     Input/Output Variabel for Each Model

f.     Fidely and Resolution Level

g.     Model (and Problem) Growth Paterns

2.    Fungsi Strategi

Melibatkan Desain strategi yang menggambarkan konteks pengaturan instruksional, pengaturan sosial, tujuan, struktur sumber daya, dan acara yang diberikan.

  • pengaturan fisik (ruang kelas, terminal)
  • pengaturan sosial yang mencakup peserta, peran harapan, inisiatif aturan
  • Struktur tujuan instruksional
  • Tugas tujuan untuk blok acara dan pengurutan peristiwa blok
  • Spesifikasi acara bentuk dan kelas
  • Strategi aturan untuk acara kelas
  • Penggunaan konteks dramatis
  • Cara masalah penyediaan informasi yang relevan kepada peserta didik

3.    Fungsi Kontrol

Desain simulasi fungsi menggambarkan sarana yang seorang pelajar dapat menyampaikan pesan-pesan yang mempengaruhi terbukanya isi, strategi, atau unsur-unsur dinamis lainnya dari pengalaman. Desain sistem kontrol sangat  menantang karena tindakan belajar berlangsung dalam konteks yang dinamis dan harus memanfaatkan pertukaran informasi dan kontrol.

4.    Fungsi Pesan

: pesan Menghasilkan unit

  • Prinsip: Pesan Elements
  • Prinsip: Pendekatan untuk Penataan pesan
  • Prinsip: Pelaksanaan-waktu Pembangunan pesan

5.    Fungsi Representasi

Fungsi representasi desain simulasi adalah yang paling terlihat dan nyata. Desainnya melibatkan semua unsur sensorik pengalaman simulasi-pemandangan, suara, sensasi taktil, dan kinestetik sensasi. Fungsi representasi desain yang menggambarkan semua pengalaman indrawi yang akan diadakan dan bagaimana mereka akan diintegrasikan dan disinkronkan. Semua dijelaskan struktur titik ini untuk konten, strategi, kontrol, dan pesan yang abstrak dan menjadi terlihat hanya melalui representasi desain. Oleh karena itu, representasi adalah jembatan yang menghubungkan elemen desain abstrak dengan simbolis tertentu elemen media.

6.    Media-fungsi logika

Media-melaksanakan fungsi logika representasi dan melaksanakan operasi logis yang memungkinkan simulasi peristiwa terjadi. Hal ini dapat juga mencakup perhitungan dan pengumpulan data.

7.    Fungsi pengelolaan data

Mengelola data yang dihasilkan dari interaksi

 

C.      Kesimpulan

Simulasi sangat ampuh dan efektif karena mereka meningkatkan kewaspadaan siswa dan keterampilan memahami, meningkatkan integrasi keterampilan siswa dalam berbagai konteks kinerja, menyesuaikan diri dengan berbagai tingkat pembelajaran melalui cakupan kinerja dinamis, dan membantu pelajar melihat pola dari waktu ke waktu dalam sistem dinamis. Kami telah menjelaskan sejumlah prinsip-prinsip tertentu yang dapat membimbing desain, dan keterbatasan ruang sementara telah membuat kami dari termasuk semua prinsip-prinsip petunjuk yang mungkin, kami percaya bahwa bab ini membantu mengidentifikasi kondisi saat ini pengetahuan untuk sebuah basis pengetahuan umum untuk desain instruksional simulasi.

 


2 Comments

  1. unm makassar says:

    ass. saya mengambil salah satu rujukan, atas tesis yang akan saya garap berjudul “Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Pengalaman Pribadi Siswa SMK”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: